Pemimpin Pasar

Pemimpin Pasar

 

Menjadi pemimpin pasar (market leader) yang menguasai penjualan di suatu industri adalah impian semua perusahaan. Pemimpin pasar di dunia di antaranya Nokia (handset) dan Samsung (consumer electronic dan IT Technology), sedangkan di Indonesia seperti produk layanan telekomunikasi berbasis GSM dan CDMA dikuasai Telkomsel dan Flexi dari Telkom.

Bagaimana caranya menjadi pemimpin pasar? Rumus klasik persaingan dari Michael Porter banyak dijadikan resep generik perusahaan dan pebisnis. Kuncinya hanya tiga yaitu, harga murah, diferensiasi produk dan atau fokus (melayani segmen tertentu).

Menjadi pemimpin pasar dengan menawarkan produk murah perlu memenuhi prasarat pasar yaitu produk bermutu. Bila produk murah namun mutu rendah, pasar akan meninggalkan produk di kemudian hari. Strategi melalui diferensiasi produk diterapkan Nokia yang menguasai pangsa pasar HP dunia. Perusahaan ini menawarkan beragam jenis produk untuk beragam segmen.

Strategi lainnya yang dapat digunakan menerapkan umbrella branding (pemerekan produk dalam satu payung perusahaan). Misalnya, pasar sabun mandi di Indonesia dikuasai Unilever melalui Lux, Dove, dan Lifebouy. Dalam hal ini Unilever sebagai umbrella brand merek-merek tersebut.

Tujuan perusahaan menawarkan produk sama dengan merek yang berbeda adalah agar konsumen membeli semua produk yang ditawarkannya sehingga menguasai pangsa pasar. Kelebihan umbrella branding perusahaan tetap memberikan dukungan promosi untuk meningkatkan penjualan produk-produk tersebut.

Fenomena ini memiliki kemiripan dengan praktik promosi calon anggota legislatif (caleg) di seluruh Indonesia saat ini. Setiap caleg (sebagai produk parpol) melakukan promosi gencar melalui baliho, spanduk dan poster sebagai cara menarik minat masyarakat agar memilih yang bersangkutan. Pada setiap alat promosi yang digunakannya selalu ditampilkan parpolnya (umbrella brand). Caleg itu, dalam persaingan ini, diibaratkan produk-produk yang mewakili partai.

Penerapan umbrella branding perlu dilakukan secara konsisten. Pertama, penguatan kualitas dan frekuensi komunikasi above the line (TV dan media cetak) dan below the line (pendekatan langsung kepada masyarakat). Tujuan komunikasi itu menginformasikan keberadaan parpol dan mengajak masyarakat memilih mereka. Misalnya, parpol besar seperti Golkar, Demokrat, dan PDIP serta partai baru Gerindra secara rutin beriklan di TV. Bahkan saat ini semua parpol mengerahkan seluruh energinya berkampanye.

Promosi tunggal parpol dan kampanye seperti yang telah dan sedang dilakukan parpol besar itu tidaklah cukup dalam rangka pemenangan pileg maupun pilpres. Dengan semakin terpecahnya suara masyarakat pada 38 parpol, parpol perlu bekerja sangat keras memenangi jumlah perolehan suara di tahap pileg.

Sisa waktu saat ini sampai dengan menjelang pemilihan legislatif perlu dimanfaatkan parpol menerapkan beragam strategi above dan below the line communication untuk mempromosikan kader-kadernya baik di tingkat daerah, provinsi sampai pusat. Dengan demikian, masyarakat merasakan dan merencanakan pemilihan caleg sesuai dengan promosi partai.

Menjadi pemimpi pasar jangan terjebak pada penggunaan media yang populer saja (above the line communication) seperti TV dan media cetak. Perlu digunakan media personalised marketing (pemasaran personal) yang lebih fokus, sebagai salah satu praktik below the line communication. ***

Penulis, Ketua Jurusan Manajemen FE Unpad, Ketua Dewan Pengurus Forum Pemasaran Kota Bandung & Sekjen IMA Jabar.

 

Selamat Datang
image

"Your Marketing Partner"

Buku IMA
Dunia IMA
Link

   

kontak kami

    

 

 

 

 

Email :

imajabar@yahoo.co.id

sekretariat@imajabar.com

Sekretariat :


Visitor

Copyright © 2014 www.imajabar.com riel_07 · All Rights Reserved